SD PANGUDILUHUR I-II SURAKARTA
SD Pangudi Luhur Surakarta - Jl. A. Sugiyopranoto No. 1 Surakarta 57111  Telp.(0271)645349 Fax:(0271)645566
Senin, 16 Desember 2019  - 1 User Online  
BERANDABUKU TAMUHUBUNGI KAMI 


14.03.2009 20:04:13 1225x dibaca.
ARTIKEL
PENGARUH TIPE ORANG TUA TERHADAP PERKEMBANGAN ANAK

Ada 6 tipe orang tua yang mempengaruhi perkembangan seorang anak, yaitu :

1. Tipe Orang Tua Bayang-bayang

Tipe ini menggambarkan orang tua selalu berada di rumah, tetapi tidak pernah memerankan atau memfungsikan dirinya sebagai orang tua. Anak dibiarkan tumbuh dan berkembang dengan sendirinya. Jika anak bersalah di mata orang tuanya, maka si anak pun tidak lepas dari kemarahan orang tua karena orang tua menganggap si anak seharusnya sudah tahu dan memahami apa yang diinginkan oleh orang tuanya. Akibatnya, si anak merasa tidak mendapatkan keamanan dan kenyamanan berada di lingkungan rumahnya sendiri. Dan yang pasti, anak tidak merasa memiliki hubungan yang dekat dengan orang tuanya, sehingga anak akan mencari pengganti di luar lingkungan rumahnya yang tidak diketahui secara pasti apakah akan berdampak lebih baik atau malah lebih buruk. Kondisi ini akan berakibat anak menjadi tidak stabil dan tidak dewasa dalam hal pengendalian emosinya.

 

2. Tipe Orang Tua Rapuh

Orang tua yang secara emosional rapuh biasanya mudah panik, mudah kuatir, mudah atau sering tersinggung, kurang mempercayai anaknya, dan tidak berani melepaskan anaknya. Orang tua dengan tipe ini biasanya akan selalu berusaha dekat dengan anaknya ke manapun anaknya pergi karena kekuatiran yang berlebihan terhadap keselamatan dan keamanan anaknya. Akibatnya anak menjadi tidak berani, tidak mempunyai kepercayaan diri, tidak mau mengambil resiko. Dala perkembangannya, si anak akan menjadi seperti orang tuanya, yaitu mudah tersinggung, mudah kuatir, mudah panik, dan selalu meminta kepada orang tuanya untuk mengikutinya ke manapun dia pergi.

 

3. Tipe Orang Tua Kontrol

Tipe orang tua kontrol merupakan tipe orang tua yang suka atau terlalu mengatur dan melindungi anaknya. Misalnya, si anak akan mengerjakan PR melukis dari gurunya, maka orang tua meminta untuk melakukan sesuai keinginan orang tuanya. Bahkan bila anaknya tidak mampu melakukan seperti yang dimaksudkan oleh orang tuanya maka dengan rela dan senang hati orang tua akan melakukannya sendiri demi anaknya.

Contoh lain, si anak mempunyai keinginan untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler vokal yang disukainya namun orang tuanya lebih menyukai jika anaknya mengikuti kegiatan ekstrakurikuler menari dibandingkan vokal. Karena takut dengan orang tuanya maka si anak mendaftar kegiatan ekstrakurikuler menari. Dalam perjalanannya, karena bukan pilihannya maka si anak tidak bisa mengekspresikan dirinya. Dalam kesempatan yang lain, jika si anak diminta untuk tampil vocal maka sangat memungkinkan si anak menjadi tidak berani tampil baik karena ada kekuatiran hasilnya tidak baik karena tidak adanya dukungan dari orang tua.

 

4. Tipe Orang Tua Piala

Orang tua dengan tipe ini biasanya hanya akan menghargai anaknya jika anaknya berhasil atau berprestasi. Jika anaknya tidak berprestasi maka anak akan menjadi tumpuan kesalahan dan kemarahan orang tuanya. Orang tua akan selalu menuntut anaknya selalu menjadi yang terbaik.Biasanya tipe orang ini akan berusaha mati-matian agar anaknya berprestasi dengan cara apapun,misalnya anak diwajibkan mengikuti les atau kursus mata pelajaran setiap harinya, atau anak tidak diperbolehkan mengikuti kegiatan lainnya kecuali belajar saja. Si anak sendiri akhirnya juga menyadari bahwa dia hanya akan diperhatikan dan dicintai oleh orang tuanya jika dia berprestasi di kelasnya. Akibatnya anak menjadi ambisius, selalu ingin yang terbaik dan bisa mengalahkan temannya atau orang lain, dengan cara apapun. Jika ada teman atau orang lain yang lebih berprestasi maka si anak ini relatif tidak bisa menerima kondisi tersebut. Bahkan ada anak yang

tidak mau bergaul dengan temannya yang berprestasi lebih baik karena kecemburuannya yang tidak terkendali terhadap prestasi temannya. Walaupun mungkin si anak ini tahu bahwa cara yang dilakukannya adalah keliru ataupun merugikan pihak lain, hal itu tidak menjadi masalah, yang penting hasil akhirnya baik bagi dirinya sendiri. Anak akan berusaha menjaga namanya atau penampilannya agar selalu menjadi yang terbaik, supaya orang lain ataupun orang tuanya memujinya. Jika hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkannya, baik anak maupun orang tuanya akan berontak, bahkan bisa mengadukan gurunya atau orang lain dengan cara apapun.

 

5. Tipe Orang Tua Sibuk

Tipe ini menggambarkan orang tua yang (suka) sibuk dengan urusannya sendiri. Mungkin bisa jadi memang dia tidak bekerja, tetapi tetap menyibukkan dirinya sendiri, sibuk dengan urusan pribadinya. Misalnya, sering bertelepon dalam waktu yang tidak bisa dikatakan singkat untuk urusannya sendiri, atau sering bepergian padahal bukan untuk bekerja. Akibatnya, anak menjadi takut bila akan bertanya atau meminta sesuatu. Anak akan merasa kesepian. Anak akan merasa tidak memiliki orang tua. Jika ada suatu masalah yang terjadi, anak cenderung tidak berani menyampaikannya kepada orang tuanya. Anak akan mencari solusinya di luar lingkungan rumah. Hal ini akan mengakibatkan emosi anak menjadi labil, karena tidak ada yang pernah mengarahkan.

 

6. Tipe Orang Tua Meninggal

Orang tua dengan tipe ini biasanya tidak atau kurang suka merawat anaknya. Anak dibiarkan tumbuh dan berkembang oleh orang lain atau pengasuhnya. Anak tidak pernah diperhatikan. Semua kebutuhan anak tetap dipenuhi oleh orang tuanya melalui si pengasuh. Jika anak melakukan sesuatu yang keliru atau tidak sesuai harapan maka anak akan menjadi korban kemarahan orang tua. Si pengasuh pun tidak lepas dari kemarahan orang tua. Orang tuanya tidak pernah mau memahami ataupun memikirkan perasaan si anak maupun pengasuhnya. Akibatnya, anak akan merasa bahwa si pengasuh inilah orang tuanya yang sejati. Anak tidak akan mau membina hubungan dengan orang tuanya sendiri, karena di mata si anak mereka bukanlah orang tuanya, tetapi orang lain yang setiap hari tugasnya hanya marah kepada dirinya (si anak).Akibatnya, si anak tidak akan bisa belajar mengendalikan diri, dan emosinya menjadi tidak stabil. Demikian sekilas beberapa tipe orang tua yang dapat mempengaruhi perkembangan emosi anak.

 

Surakarta, 6-03-2009
Di kiirim oleh Bpk. Joko Prasetya.S.SO








^:^ : IP 3.234.214.113 : 2 ms   
SD PANGUDILUHUR I-II SURAKARTA
 © 2019  http://sdplsolo.pangudiluhur.org/