SD PANGUDILUHUR I-II SURAKARTA
SD Pangudi Luhur Surakarta - Jl. A. Sugiyopranoto No. 1 Surakarta 57111  Telp.(0271)645349 Fax:(0271)645566
Minggu, 15 Desember 2019  - 1 User Online  
BERANDABUKU TAMUHUBUNGI KAMI 


01.12.2008 10:14:09 1090x dibaca.
ARTIKEL
ANTARA ENGKAU DAN AKU

Oleh: David Petrus Stephanus

Surat terbuka ini saya tulis dan saya tujukan untuk seluruh keluarga besar SD. Pangudi Luhur Surakarta, baik jajaran guru, staf dan karyawan, maupun orang tua murid. Tidak lupa, surat ini juga saya tujukan pula bagi seluruh siswa-siswi dari kelas I hingga kelas VI serta alumni yang nota bene juga bagian tak terpisahkan dari keluarga SD. Pangudi Luhur Surakarta yang kita cintai ini. Bahkan siapa pun yang merasa sehati dan punya perhatian besar pada sekolah kita ini juga merupakan komunitas yang ingin saya sapa melalui surat terbuka ini.


Munculnya goresan tulisan ini berawal dari rasa heran dan terkejut saya manakala saya datang ke sekolah pada hari Jumat pagi tanggal 28 November 2008. Ada pemandangan yang lain pada pagi itu. Dua buah angkutan kota berwarna kuning terparkir di halaman sekolah bersanding dengan tiga mobil orang tua murid, sementara beberapa bapak guru sedang serius memberi pengarahan kepada siswa-siswi yang akan ikut kegiatan dokter kecil. Di sudut lain terlihat seorang sopir angkutan kota yang terparkir di halaman sekolah sedang asyik mengganti ban depan sebelah kiri yang pasti dia rasa tidak layak serta berpotensi membahayakan penumpang kalau tidak diganti segera. Apanya yang aneh dan terasa lain daripada yang lain?

Yang terasa aneh dan lain daripada yang lain bukan aktifitas sopir yang sedang mengganti ban, dan bukan juga kesibukan siswa serta guru yang sedang mempersiapkan kegiatan dokter kecil, tetapi yang terasa aneh dan lain daripada yang lain adalah keberadaan dua angkutan kota di dalam jajaran mobil yang diparkir di halaman sekolah. Dalam hati saya bertanya,”Kok bisa ada angkutan kota di sini ya?”. “Apa benar angkutan kota ini akan dipakai untuk mengangkut anak-anak yang ikut kegiatan dokter kecil?”. Sederet pertanyaan muncul dalam benak saya, sehingga rasa heran yang sempat menyergap hati saya saat memasuki gerbang sekolah menjadi semakin hebat.

Tak tahan dengan semua yang saya lihat dan saya rasakan pada pagi itu, akhirnya saya bertanya kepada salah seorang tua murid. “Pak, kok ada angkutan kota di sini?”. Dengan cepat bapak yang nota bene adalah orang tua murid tsb menjawab,”Iya Pak David, angkutan kota itu akan dipakai untuk mengangkut anak-anak yang ikut kegiatan dokter kecil”. Jawaban bapak ini sekaligus membenarkan dugaan saya bahwa angkutan kota itu akan dipakai untuk mengangkut anak-anak SD. Pangudi Luhur yang akan ikut kegiatan dokter kecil dan sekaligus juga semakin mengobarkan rasa heran saya.

Secara spontan saya balik bertanya,”Kok bisa ? Apakah tidak ada orang tua murid yang mau membantu transportasi kegiatan ini ?”. Dengan spontan juga bapak itu menjawab,”Ada sih pak, tetapi sangat minim. Yang saya dengar orang tua murid enggan untuk membantu sekolah. Katanya, biar itu jadi urusan sekolah, kan dana BOS nya juga dipotong sekolah, jadi sekolah pasti punya dana untuk membayar kegiatan sekolah, termasuk biaya transportasi kegiatan ini”.


Sampai di situ, pembicaraan kecil berhenti, bukan lantaran saya kehabisan pertanyaan, tetapi saya benar-benar merasa terpukul dan sekaligus “trenyuh” dengan fenomena yang saya temui serta informasi yang saya terima dari pembicaraan tadi. Belum sempat saya berfikir lebih jauh untuk merefleksikan semuanya ini, bapak tadi menimpali dengan infromasi yang makin mencengangkan hati saya. Dengan lantang bapak tadi berkata,”Pak David heran ya ? Ini bukan yang pertama lho. Kalau tidak salah waktu anak-anak mewakili SD Pangudi Luhur ikut upacara hari Pahlawan dan hari Guru, mereka juga diangkut dengan angkutan kota”. Saya tidak bisa lagi bicara; kalau orang Solo bilang saya jadi “blangkemen” mendengar itu semua. Saya hanya bisa mengangguk-angguk sambil mencoba menahan gemuruh hati saya yang ingin meledak saat itu. Apa yang saya rasakan sehingga saya jadi sangat prihatin dengan itu semua ?

 

Saya tidak merasa prihatin, apalagi merasa malu, dengan pilihan sarana angkutan kota yang dipakai saat itu,  karena saya yakin bahwa anak-anak tampaknya juga tidak keberatan dengan angkutan kota yang disediakan untuk mereka. Keceriaan anak-anak saat berada di dalam angkutan kota, bahkan polah tingkah beberapa anak yang memperagakan perilaku kondektur angkutan kota, merupakan bukti kuat bagi saya bahwa anak-anak tidak merasa canggung dengan sarana angkutan yang mereka terima, mereka sangat bisa menerima, bahkan tetap bisa menemukan keceriaan di sana. Yang membuat saya prihatin adalah kemana orang tua murid yang biasanya dengan senang hati membantu sekolah meyediakan sarana transportasi bila ada kegiatan semacam itu. Apakah fenomena ini merupakan gejala “lunturnya” kepedulian (baca : keterlibatan) orang tua murid terhadap kegiatan yang dilakukan sekolah.

Apakah fenomena ini juga merupakan pertanda awal terjadinya pergeseran nilai di sekolah kita ini, yakni dari nilai yang mengedepankan kebersamaan sebagai satu keluarga, satu badan, satu tubuh, serta satu roh menjadi nilai yang didasarkan pada pola hubungan antara ENGKAU dan AKU semata. Kalau kekhawatiran saya akan terjadinya pergeseran nilai ini benar-benar terjadi, maka ini merupakan gejala yang tidak kondusif dan harus segera ditata ulang. Dan akan terasa semakin tidak kondusif atau lebih memprihatinkan lagi manakala pergeseran nilai tersebut lebih didasari oleh motif uang. “Kita kan sudah membayar, mengapa kita harus ikut repot dengan urusan sekolah? Biarkan sekolah menyelesaikan masalahnya sendiri dengan dana yang sudah kita bayarkan kepada sekolah”, demikian kira-kira opini yang ada manakala pergeseran nilai tersebut benar-benar bertumpu pada motif uang.

 
Ada sebuah tulisan, atau lebih tepatnya cerita, yang terngiang di benak saya pada saat refleksikan fenomena ini. Tulisan tsb ditulis oleh Anthony de Mello SJ dengan judul SIAPAKAH AKU ? Tulisan tsb kurang lebih adalah demikian.

Attar dari Neishapur bercerita :
Seseorang yang sedang jatuh cinta
mengetuk pintu rumah kekasihnya.
“Siapa ?” tanya sang kekasih dari dalam.
 “Aku.” Kata orang itu.
“Pergi sajalah! Rumah ini tidak akan muat
untuk kau dan aku.”
Orang yang cintanya ditolak ini pergi ke
padang gurun. Di sana ia merenung
selama berbulan-bulan, memikir-mikirkan
kata-kata kekasihnya. Akhirnya ia kembali dan
mengetuk pintu rumah kekasihnya lagi.
“Siapa yang mengetuk itu?”
“Engkau”
Segera pintu dibukakan

Ada beberapa point penting yang ingin disampaikan oleh cerita tadi. Pertama, pola hubungan yang paling tinggi adalah pola hubungan pada tingkatan antara aku dan aku atau engkau dan engkau. Tidak ada lagi antara aku dan engkau karena aku dan engkau telah melebur menjadi satu sebagai aku dan aku atau engkau dan engkau. Apa yang aku rasakan pasti engkau rasakan karena engkau telah menjadi aku, dan apa yang engkau pikirkan pasti aku pikirkan juga karena aku telah melebur menjadi engkau. Tidak ada lagi aku dan engkau, yang ada adalah aku dan aku atau engkau dan engkau. Aku dan engkau bukan lagi dua, melainkan satu.

“Bukannya satu ditambah satu adalah dua, tetapi dua adalah separuh ditambah separuh dari satu”


Kedua, dasar terbentuknya pola hubungan yang menyatu tsb adalah CINTA, bukan saja cinta yang dimengerti, melainkan juga cinta yang dirasakan dan dihayati. Pergumulan batin pemuda tadi di padang gurun mampu memurnikan cinta dia pada kekasihnya, sehingga dia tidak lagi hanya menjadi dirinya sendiri, melainkan menjadi diri kekasihnya; satu badan, satu jiwa, dan satu roh.

 
Kalau kita kembali pada fenomena Jum’at pagi di halaman SD. Pangudi Luhur, maka ada beberapa point penting yang harus kita catat dan kita pikirkan masak-masak, terkait dengan fenomena ini. Pertama, mulai muncul nilai baru dalam pola interaksi yang terjadi di komunitas SD. Pangudi Luhur; nilai baru yang nada-nadanya cenderung bersifat kontra produktif bagi proses pembentuak insan yang utuh. Meskipun gejalanya masih sangat minor dan belum terlihat terstruktur atau sistematis, tapi nilai baru tsb mulai muncul secara faktual.  Apakah nila baru ini salah ? Saya tidak akan menjaustifikasi apakah nilai tsb salah atau benar, karena secara universal belum tentu salah. Namun demikian, nilai tsb  saya rasa sangat tidak sejalan dengan spiritualitas yang dibangun di komunitas SD.

 

Pangudi Luhur, dimana aspek humanisme dan religiositas menjadi aspek utama yang mewarnai misi dan pelayanan lembaga. Oleh karena itu, apabila nilai baru tsb ditumbuhkembangkan, saya khawatir keluaran yang dihasilkan oleh lembaga ini akan menyimpang dari cetak biru profile insan yang ingin dihasilkan oleh SD. Pangudi Luhur Surakarta. Dan kalau itu benar-benar terjadi, pasti akan sangat disayangkan sekali. Bagaimana pun juga, di tengah derasnya nilai individualisme yang mendera masyarakat dewasa ini, dibutuhkan adanya keinginan luhur untuk membangun insan yang memiliki kepedulian kepada lingkungan dan sesama.

 

Kedua, perlu kiranya bagi kita untuk menakar kembali cinta kita kepada SD. Pangudi Luhur.  Adakah cinta itu mulai memudar, bahkan telah berubah menjadi kebencian yang amat dalam ? Keputusan kita untuk mempercayakan anak kita pada SD. Pangudi Luhur, sedikit banyak, didasari adanya kesamaan pandangan, semangat, dan bahkan spiritualitas antara kita dengan SD. Pangudi Luhur. Keputusan kita untuk tidak mengubah keputusan awal kita, sehingga hingga detik ini anak kita masih berada di dalam komunitas SD. Pangudi Luhur, tentu juga didasarkan akan adanya kesamaan pangandang, semangat, maupun spiritualitas tsb di atas. Namun demikian, tidak serta merta takaran cinta kita kepada SD. Pangudi Luhur masih sindah dulu, meskipun kita masih menitipkan anak kita di sana. Oleh karena itu, ada baiknya bila kita senantiasa menakar kembali cinta tsb, karena dari awal kita sudah tahu bahwa cinta itulah yang akan menjadi dasar terbentukkan pola hubungan yang berkualiats dan dewasa, tidak semata pola hubungan yang didasarkan pada pola hubungan antara Engkau dan Aku.

 

Sebagai guratan akhir dari surat ini, kami juga ingin menitipkan pesan bagi pengelola SD. Pangudi Luhur untuk senantiasa berani bertanya :”Adakah aku tidak lagi pantas menerima cinta mereka, sehingga mereka mulai berpaling dari padaku?” Dengan senantiasa berefleksi dan introspeksi diri, saya percaya banyak orang akan datang ke SD. Pangudi Luhur Surakarta untuk berbagi cinta dengan lembaga ini, karena saya yakin lembaga ini memang pantas untuk dicintai. Salam

                      








^:^ : IP 3.234.214.113 : 2 ms   
SD PANGUDILUHUR I-II SURAKARTA
 © 2019  http://sdplsolo.pangudiluhur.org/